Abida Massi Mahasiswa medioker yang banyak menghabiskan waktunya di internet. Penikmat sains populer, filsafat, dan teologi. Menulis hanya sebagai katarsis saja.

God of the Gaps: Menjunjung Tinggi Ketidaktahuan

4 min read

God of the Gaps
Photo by Gabriel Crismariu on Unsplash

Ketika kita sedang berdiskusi mengenai peristiwa atau fenomena alam yang sedang hangat terjadi—semisal penyakit, bencana alam, dan lain sebagainya—sering kali muncul orang-orang yang memberikan argumen ‘sesat’ seperti: “Tuhan yang melakukannya, itu adalah bukti kebesaran-Nya.” Alih-alih menanggapi secara rasional dan logis, atau mengatakan tidak tahu karena memang tidak tahu, mereka justru memaksa untuk menyimpulkan dengan memasukkan entitas tak nyata sebagai faktor penyebabnya.

Menurut KBBI, arti kata nyata /nya·ta/ adalah: 1) terang (kelihatan, kedengaran, dan sebagainya); jelas sekali; kentara; 2) benar-benar ada; ada buktinya; berwujud; 3) terbukti.

Memang tidak ada yang salah mengenai penggunaan argumen tersebut, karena semua orang bebas untuk berpendapat maupun berekspresi. Namun perlu diketahui, argumen tersebut (dan semacamnya) termasuk ke dalam salah satu kesesatan dalam berpikir. Dengan demikian, pembuat argumen harus siap menerima jika ada yang mengkritisi argumennya.

Dalam klasifikasinya, sesat pikir pada contoh argumen yang telah saya sebutkan di atas termasuk ke dalam bagian God of the gaps fallacy, atau juga bisa disebut sebagai argumentum ad ignorantiam. Kesalahan berpikir seperti ini umumnya didasari karena kurangnya pengetahuan dan informasi akan suatu hal (baca: segala hal). Pada tulisan ini, saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai sesat pikir God of the gaps tersebut; mulai dari konsep penalarannya hingga dampak apa saja yang ditimbulkan.

Konsep God of the Gaps

God of the gaps adalah sebuah sudut pandang teologi yang menggunakan ketidaktahuan dalam ilmu pengetahuan untuk mendukung keberadaan Tuhan (Gleiser, 2015). Sederhananya, sesuatu yang tidak dapat—atau belum dapat—dijelaskan oleh sains dan logika, pasti dihubungkan dengan mukjizat, kebesaran, atau keberadaan Tuhan. Mereka yang memakai argumen buruk seperti ini biasanya adalah orang-orang dengan tingkat literasi rendah yang memaksa untuk menjelaskan suatu; tetapi ilmunya tidak sampai.

Dalam konsep penalaran seperti ini, Tuhan hanya hadir jika sains memiliki celah-celah yang kosong. Ketika salah satu celah dalam puzzle pengetahuan ilmiah terisi, maka gaps ketidaktahuan akan semakin mengecil sehingga posisi Tuhan pun semakin tergerus. Dengan kata lain, jika suatu misteri telah diungkap secara saintifik, maka konsep ‘ide Tuhan’ tadi akan dibuang dan hanya dianggap sebagai omong kosong masa lalu.

Penggunaan Argumen

Penalaran God of the gaps sudah hadir sejak ribuan—atau mungkin ratusan ribu tahun yang lalu. Sekitar 4000 tahun yang lalu, orang-orang Yunani Kuno menganggap bahwa petir berasal dari kemarahan Dewa Zeus; dan mereka juga menganggap bahwa seluruh fenomena alam yang terjadi disebabkan oleh Dewa-Dewi mereka (Adkins & Pollard, 2020). Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, semua anggapan tersebut terbantahkan.

Melalui bidang ilmu Meteorologi—ilmu yang mempelajari cuaca—sains hadir menjelaskan bahwa petir bukanlah berasal dari kemarahan Zeus, melainkan karena terjadinya pertukaran antara muatan negatif dari awan dengan muatan positif dari bumi (Septiadi et al, 2011). Di sini, Zeus, yang mengisi celah pada ilmu pengetahuan, telah dibuang oleh manusia dan dianggap sebagai mitos belaka.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang masif di abad ke-21 ternyata tidak membuat orang-orang berhenti untuk menggunakan sesat pikir ini. Beberapa waktu lalu, “ulama” kondang yang kerap kali melakukan ujaran kebencian terhadap agama lain, sebut saja Abdul Thomas, memberi pernyataan ‘God of the gaps‘ yang amat sangat konyol. Thomas mengatakan bahwa virus Corona adalah tentara yang dikirim oleh Tuhan untuk melindungi muslim Uighur di Tiongkok (Dimedjo, 2020). Ironisnya, pernyataan konyol tersebut justru diamini oleh bigot-bigot pemujanya.

Seperti yang kita ketahui sekarang, virus Corona (SARS-CoV-2) bukanlah berasal dari ‘langit’ untuk membasmi rezim Tiongkok, melainkan berasal dari hasil mutasi genetik virus yang sudah eksis sebelumnya; dan virus tersebut menyerang hampir ke seluruh negara di dunia, termasuk ke negara-negara dengan populasi muslim (Parwanto, 2021). Di sini, sains telah berhasil menggeser satu celah yang sebelumnya ditempati oleh Tuhan-nya Thomas.

Dampak Penalaran

Penalaran ‘sesat’ God of the gaps adalah salah satu penalaran yang sangat mudah dilakukan dan terlihat sangat bodoh jika digunakan. Kita tidak perlu berpikir runut dan sistematis untuk menjawab pertanyaan mengenai penyebab dari suatu fenomena. Dan sebagai gantinya, kita hanya perlu memasukkan satu entitas tak nyata—seperti Zeus, Osiris, Doraemon, atau (t)uhan—sehingga semua misteri pun akan terjawab.

Penalaran seperti ini harus dihindari karena dapat memberikan dampak buruk; entah bagi si pembuat argumen maupun bagi orang lain—terutama bagi orang yang sedang berdiskusi atau yang sedang diceramahi. Deretan dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari penalaran ‘sesat’ God of the gaps antara lain:

1. Mempertontonkan Kedunguan

Penalaran God of the gaps merupakan salah satu jalan pintas untuk mendapatkan jawaban tanpa harus berpikir panjang. Hal ini membuat para pemakai argumen ‘sesat’ ini terlihat dungu dan sombong. Saya bisa mengatakan mereka sombong karena mereka telah merendahkan dan menghina akal sehat manusia.

Mungkin hal ini tidak akan berbahaya jika kedunguan itu hanya dikonsumsi sendiri oleh mereka. Namun, yang dikhawatirkan adalah ketika mereka menyebarkan metode kedunguannya tersebut melalui pendidikan formal ataupun ceramah-ceramah umum; karena sesuai pengalaman saya, penalaran seperti ini sering diajarkan di sekolah maupun di kampus (bahkan di kelas non-teologi).

2. Membuat Tuhan Terlihat Lemah

Dalam penalaran God of the gaps, Tuhan hanya digunakan untuk mengisi lubang kosong pada ilmu pengetahuan. Ketika lubang tersebut sudah ditambal oleh penemuan saintifik, maka posisi Tuhan akan semakin menyusut sehingga semakin sedikit ruang bagi-Nya untuk menetap.

Hal ini akan membuat kedudukan Tuhan terlihat sangat lemah; dan juga menyebabkan si pembuat argumen semakin sulit untuk berapologetika ‘membela iman’. Melihat model penalaran seperti ini akan memunculkan satu pertanyaan baru di benak kita: jika semua celah telah ditambal, mau ditaruh di mana posisi Tuhan?

3. Menghentikan Diskusi

Seseorang yang menggunakan argumen God of the gaps umumnya sudah menganggap jawabannya sebagai kebenaran mutlak—tidak bisa diganggu gugat. Jika diskusi dilanjutkan, yang ada hanya menimbulkan masalah baru dan memulai debat kusir yang tidak akan kunjung selesai.

Bahkan, jika lawan diskusi atau lawan debat—yang kontra dengan argumen God of the gaps—menyanggah argumennya lebih jauh, mereka sangat berpotensi untuk dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan penistaan agama. Dengan demikian, jika Anda sedang berdiskusi dengan para bigot yang membawa argumen semacam ini, akan jauh lebih baik untuk meninggalkannya.

4. Menghambat Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Bayangkan jika para ilmuwan mengambil pendekatan: “Virus Corona diturunkan oleh Tuhan; maka dari itu kita harus memohon kepada-Nya untuk menghentikan virus ini,” kira-kira apa yang akan terjadi dengan dunia? Mungkin, peradaban manusia akan mundur ribuan tahun ke belakang; angka harapan hidup manusia akan turun drastis karena tidak akan ditemukannya vaksin; tidak akan ada lagi yang namanya ilmuwan; dan muncul berbagai skenario buruk lainnya.

Penalaran seperti ini jelas berdampak buruk dan menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Bukannya berkembang—dengan terus mencari penyebab nyata dari suatu masalah serta menemukan solusinya, justru malah merasa puas dengan jawaban yang sangat delusional.

Kesimpulan

Memang masih banyak pertanyaan-pertanyaan di dunia ini yang belum terjawabkan, seperti: “Apa yang terjadi sebelum Big Bang?” atau “Dari mana kehidupan berasal?” atau “Siapa dalang pembunuhan Munir?” ataupun pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun, hal ini bukan berarti kita harus langsung melompat jauh dengan menyatakan Tuhan sebagai jawaban atas seluruh pertanyaan yang ada.

Justru ini menjadi tugas kita semua, sebagai umat manusia, untuk mengungkap seluruh misteri yang ada di alam semesta. Dengan kata lain, ini menjadi tugas kita untuk menyingkirkan ‘ide Tuhan’ dari celah-celah pada puzzle ilmu pengetahuan. Sebagai tambahan dari saya; jika Anda tidak mengetahui—atau belum mengetahui—akan suatu hal, akan lebih bijak untuk mengatakan tidak tahu alih-alih menjawab ngalor-ngidul dengan argumen yang konyol.

Abida Massi Mahasiswa medioker yang banyak menghabiskan waktunya di internet. Penikmat sains populer, filsafat, dan teologi. Menulis hanya sebagai katarsis saja.

2 Replies to “God of the Gaps: Menjunjung Tinggi Ketidaktahuan”

  1. Pada poin nomor 4, yg harus dipahami adalah, Islam sendiri mengatakan ilmu itu harus dikejar. Kalau mau aman urusan dunia? Tuntutlah ilmu. Kalau mau aman urusan akhirat? Tuntutlah ilmu. Tuntutlah ilmu ‘sampe ke negeri cina’. Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.

    Islam sendiri sangat mendorong muslim untuk menuntut ilmu, kalau ada masalah di dunia cara selesaikannya gimana? Ya dengan ilmu, dalam hal ini cari vaksinnya.

    Coba berikan saya 1 alasan yang kuat mengapa ajaran Islam akan menghambat ilmu pengetahuan. Satu aja

    1. Dalam tulisan ini, yang dikritik adalah model penalarannya, bukan agamanya. Dan saya juga tidak mendiskreditkan agama tertentu secara spesifik; terutama pada agama yang masih eksis.

      Terima kasih telah berkomentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.